Sekolah Islam Al AkhyarSekolah IslamALAKHYAR
← Semua Berita
Kegiatan2 September 2026 · Samsul Makrif, S.Pd.

SMP Islam Al Akhyar Makassar Gelar Outing Class Edukatif di Sejumlah Situs Bersejarah Kabupaten Gowa: Menelusuri Jejak Sejarah dan Budaya

Bagikan
SMP Islam Al Akhyar Makassar Gelar Outing Class Edukatif di Sejumlah Situs Bersejarah Kabupaten Gowa: Menelusuri Jejak Sejarah dan Budaya

SMP Islam Al Akhyar Makassar Gelar Outing Class Edukatif di Sejumlah Situs Bersejarah Kabupaten Gowa: Menelusuri Jejak Sejarah dan Budaya

Gowa 27 Agustus 2026, Sulawesi Selatan — Pembelajaran tidak selalu harus berlangsung di dalam ruang kelas. Untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih nyata dan bermakna kepada peserta didik, SMP Islam Al Akhyar Makassar melaksanakan kegiatan outing class dengan mengunjungi sejumlah situs bersejarah yang berada di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Kegiatan yang diikuti oleh 163 siswa dan siswi kelas VII, VIII, dan IX ini didampingi oleh 20 orang guru. Kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk pembelajaran kontekstual yang memadukan pengetahuan akademik dengan pengalaman langsung di lapangan, khususnya dalam mengenal sejarah, budaya, dan perjuangan tokoh-tokoh penting di Sulawesi Selatan. Dalam kegiatan ini, para peserta mengunjungi Balla Lompoa Kabupaten Gowa, Makam Sultan Hasanuddin, serta Museum Karaeng Pattingalloang yang berada di kawasan Benteng Somba Opu. Ketiga lokasi tersebut memiliki nilai sejarah dan budaya yang sangat penting bagi masyarakat Sulawesi Selatan.

Mengenal Sejarah Kerajaan Gowa di Balla Lompoa

Destinasi pertama dalam kegiatan outing class adalah Balla Lompoa, sebuah tempat yang memiliki kaitan erat dengan sejarah Kerajaan Gowa yang dibangun pada masa pemerintahan Raja Gowa ke 35 yang bernama I Mangngi-Mangngi Daeng Matutu Karaeng Bontonompo Sultan Muhammad Tahir Muhibuddi pada tahun 1935-1936. Balla Lompoa digunakan oleh Raja Gowa ke 35 sebagai tempat tinggal Bersama keluarganya. Setelah masa pemerintahan raja Gowa ke 35 berakhir, Balla Lompoa kemudian ditempati oleh Raja Gowa ke 36 yang bernama Andi Idjo Daeng Mattawang Karaeng Laloang Sultan Muhammad Abdul Kadir Aiduddin, beliau memerintah sebagai Raja Gowa sekaligus menjadi Bupati Gowa Pertama dan Balla Lompoa menjadi pusat pemerintahannya.

Di tempat bersejarah ini, para siswa mendapatkan kesempatan berharga untuk mengenal lebih dekat kehidupan Kerajaan Gowa, menyaksikan berbagai peninggalan budaya, serta menelusuri jejak sejarah yang menjadi bagian penting dari perjalanan panjang kerajaan tersebut. Tidak sekadar melihat benda-benda bersejarah, para siswa juga memperoleh penjelasan secara langsung dari salah satu ahli sejarah di Balla Lompoa Bapak Andi Jufri Tenribali. Dengan penuh antusias, para siswa menyimak berbagai kisah dan informasi mengenai kehidupan kerajaan, tradisi, serta peninggalan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Pengalaman belajar secara langsung ini memberikan pemahaman bahwa sejarah bukan sekadar rangkaian nama, tempat, dan tahun yang terdapat di dalam buku pelajaran, tetapi merupakan bagian penting dari identitas, jati diri, dan warisan budaya suatu bangsa. Melalui kunjungan tersebut, siswa diajak untuk menghargai perjuangan dan warisan para pendahulu sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap sejarah dan budaya daerahnya. Melihat jejak-jejak masa lalu membuat pembelajaran sejarah terasa lebih hidup, nyata, dan menyenangkan. Pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga bahwa memahami sejarah tidak hanya dapat dilakukan melalui buku di ruang kelas, tetapi juga dengan datang, melihat, mendengar, dan merasakan secara langsung jejak peradaban yang diwariskan oleh generasi terdahulu. Kunjungan tersebut juga memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan sikap menghargai budaya dan peninggalan leluhur. Mereka diajak untuk memahami bahwa warisan sejarah perlu dijaga, dirawat, dan dikenalkan kepada generasi berikutnya.

Meneladani Perjuangan Sultan Hasanuddin

Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan mengunjungi Makam Sultan Hasanuddin. Bagi peserta didik, kunjungan ini menjadi momentum untuk mengenal lebih dekat sosok Sultan Hasanuddin, salah satu tokoh penting dalam sejarah perjuangan masyarakat Gowa dan Sulawesi Selatan. Sultan Hasanuddin dengan nama lengkap I Malombassi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bontomangape Sultan Hasanuddin Tumenanga ri Ballapang, Raja Gowa ke 16 yang memerintah dari tahun 1653-1669. Dikenal sebagai sosok yang memiliki keberanian dan keteguhan dalam mempertahankan Kerajaan Gowa dari tekanan VOC. Semangat perjuangannya kemudian membuatnya dikenal oleh Belanda dengan julukan De Haantjes van het Oosten (Ayam Jantan dari Timur).

Melalui kunjungan ke makam tersebut, siswa tidak sekadar mengenal nama Sultan Hasanuddin dari buku sejarah, tetapi juga diajak untuk merenungkan nilai-nilai keteladanan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai keberanian, keteguhan pendirian, tanggung jawab, kecintaan terhadap tanah air, serta semangat mempertahankan kebenaran menjadi pelajaran penting yang dapat dipetik oleh para siswa. Bagi peserta didik SMP Islam Al Akhyar Makassar, pengalaman tersebut diharapkan mampu membangun kesadaran bahwa generasi muda memiliki tanggung jawab untuk menjaga nilai-nilai perjuangan para pendahulu.

Menjelajahi Museum Karaeng Pattingalloang

Pattingalloang Destinasi berikutnya adalah Museum Karaeng Pattingalloang yang berada di kawasan Benteng Somba Opu, Kabupaten Gowa. Museum ini menjadi salah satu tempat yang memberikan pengalaman belajar yang menarik bagi para siswa. Berbagai koleksi dan informasi sejarah yang terdapat di dalam museum membantu peserta didik memahami perjalanan sejarah dan perkembangan kebudayaan Sulawesi Selatan. Nama museum tersebut mengingatkan siswa kepada Karaeng Pattingalloang, seorang tokoh intelektual Kerajaan Gowa yang dikenal memiliki wawasan luas dan ketertarikan terhadap ilmu pengetahuan. Beliau adalah seorang cendekiawan dan mangkubumi Kerajaan Gowa-Tallo dengan nama lengkap I Mangangada’ Cina I Daeng I Ba’le Karaeng Pattingalloang Sultan Mahmud Tuammenang ri Bontobiraeng, Namanya dikenal sampai Wilayah Eropa sebab kecerdasannya.

Kisah Karaeng Pattingalloang memberikan pesan penting bagi dunia pendidikan bahwa kecintaan terhadap ilmu pengetahuan merupakan bagian dari kemajuan sebuah peradaban. Hal ini menjadi sangat relevan dengan semangat pendidikan di SMP Islam Al Akhyar Makassar yang tidak hanya menekankan pencapaian akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan wawasan peserta didik. Melalui kunjungan tersebut, siswa mendapatkan kesempatan untuk mengamati benda-benda bersejarah secara langsung sekaligus memahami bahwa kemajuan suatu masyarakat tidak dapat dipisahkan dari ilmu pengetahuan, budaya, dan sejarah. Kegiatan outing class semakin bermakna karena Museum Karaeng Pattingalloang berada di kawasan Benteng Somba Opu, salah satu kawasan bersejarah yang memiliki hubungan erat dengan Kerajaan Gowa. Benteng tersebut dibangun pada masa pemerintahan Raja Gowa ke 9 sebagai tempat pertahanan dan menjadi pusat perdagangan rempah rempah dan hasil bumi pada masa itu. Berada di kawasan tersebut memberikan pengalaman tersendiri bagi para siswa. Mereka dapat membayangkan bagaimana kehidupan masyarakat dan aktivitas pemerintahan Kerajaan Gowa pada masa lalu. Pembelajaran di lingkungan sejarah seperti ini membuat siswa dapat melihat hubungan antara materi yang dipelajari di sekolah dengan realitas yang ada di masyarakat. Sejarah tidak lagi dipandang sebagai kumpulan tahun, nama tokoh, dan peristiwa yang harus dihafalkan, tetapi sebagai sebuah perjalanan kehidupan yang memiliki nilai dan pelajaran bagi generasi masa kini.

Outing Class sebagai Pembelajaran Bermakna

Kegiatan outing class merupakan salah satu bentuk pembelajaran yang dapat memberikan pengalaman langsung kepada peserta didik. Dengan melihat, mendengar, mengamati, dan berinteraksi secara langsung dengan objek pembelajaran, siswa memperoleh pengalaman yang lebih konkret. Kunjungan ke Balla Lompoa, Makam Sultan Hasanuddin, dan Museum Karaeng Pattingalloang menjadi kesempatan bagi siswa untuk menghubungkan berbagai materi pembelajaran dengan kehidupan nyata.

Ananda Azzafran Dwitama Riski, siswa kelas VII Al-Halim, mengungkapkan rasa tertariknya mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, kegiatan outing class memberikan kesempatan untuk mengetahui sejarah perjuangan Sultan Hasanuddin, mengenal Balla Lompoa, serta melihat secara langsung berbagai hal yang sebelumnya hanya diketahui melalui pembelajaran di kelas.

“Sangat tertarik karena bisa mengetahui sejarah Sultan Hasanuddin dalam melawan Belanda, rumah Balla Lompoa dengan bahan-bahan bangunannya, dan bisa menjawab rasa penasaran yang ternyata sangat menarik,” ungkap Azzafran.

Sementara itu, ananda Shofie Salsabila, siswi kelas VIII Al-Majid, mengaku sangat menikmati kegiatan outing class. Selain memperoleh pengetahuan sejarah, ia juga merasa senang karena dapat menghabiskan waktu bersama teman-teman dalam suasana pembelajaran yang berbeda.

“Sangat seru karena bisa foto-foto dengan teman-teman di tempat bersejarah dan bisa melihat benda-benda pusaka di Museum Karaeng Pattingalloang,” tutur Shofie.

Tanggapan positif juga disampaikan oleh ananda Ahmad Nur, siswa kelas IX Ar-Raqib. Menurutnya, perjalanan outing class memberikan tambahan wawasan dan kesempatan untuk mengenal lebih dekat sejarah Sultan Hasanuddin serta berbagai benda pusaka yang menjadi bagian dari warisan sejarah.

“Perjalanan outing class menambah wawasan, bisa mengetahui sejarah Sultan Hasanuddin dan melihat benda-benda pusaka,” ujar Ahmad Nur.

Beragam tanggapan tersebut menunjukkan bahwa kegiatan outing class mampu menghadirkan pengalaman belajar yang berkesan bagi peserta didik. Siswa tidak hanya memperoleh informasi melalui penjelasan guru, tetapi juga dapat melihat secara langsung objek-objek bersejarah, mengamati peninggalan masa lalu, serta merasakan suasana tempat yang menjadi bagian dari perjalanan sejarah Kerajaan Gowa. Antusiasme para siswa juga menjadi gambaran bahwa pembelajaran di luar kelas dapat menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan dan interaktif. Pengalaman tersebut diharapkan dapat memperkuat pemahaman siswa terhadap materi sejarah sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap warisan budaya daerah.

Dengan demikian, kegiatan outing class bukan hanya menjadi perjalanan edukatif, tetapi juga menjadi pengalaman yang mempertemukan pengetahuan, kebersamaan, dan kegembiraan dalam satu kegiatan pembelajaran. Pengalaman yang diperoleh para siswa diharapkan dapat terus dikenang dan menjadi motivasi untuk semakin mencintai sejarah, budaya, serta ilmu pengetahuan. Selain memperkaya wawasan sejarah dan budaya, kegiatan ini juga menanamkan nilai-nilai karakter seperti rasa ingin tahu, cinta budaya, menghargai jasa para pahlawan, disiplin, tanggung jawab, kerja sama, serta kepedulian terhadap warisan sejarah. Nilai-nilai tersebut sangat penting dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter dan kepedulian terhadap lingkungan sosial dan budaya.

Menanamkan Cinta Sejarah kepada Generasi Muda

Kegiatan outing class SMP Islam Al Akhyar Makassar di Kabupaten Gowa memberikan pesan bahwa mengenal sejarah bukan sekadar mengingat masa lalu. Sejarah dapat menjadi sumber inspirasi untuk membangun masa depan. Dari Balla Lompoa, siswa belajar tentang warisan Kerajaan Gowa. Dari Makam Sultan Hasanuddin, mereka belajar tentang keberanian dan keteguhan seorang tokoh perjuangan. Sementara dari Museum Karaeng Pattingalloang, mereka mendapatkan inspirasi tentang pentingnya ilmu pengetahuan dan kecintaan terhadap pendidikan. Ketiga tempat tersebut menjadi ruang belajar yang menghadirkan pengalaman berbeda bagi para siswa. Pembelajaran sejarah pun terasa lebih hidup karena peserta didik dapat menyaksikan secara langsung berbagai jejak masa lalu yang masih dapat dinikmati hingga saat ini. Melalui kegiatan ini, SMP Islam Al Akhyar Makassar menunjukkan komitmennya untuk menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya berlangsung di dalam kelas, tetapi juga membuka ruang bagi peserta didik untuk belajar dari lingkungan, sejarah, budaya, dan masyarakat. Dengan semangat “belajar dari masa lalu, mengambil hikmah untuk hari ini, dan mempersiapkan masa depan,” kegiatan outing class ini diharapkan dapat menjadi pengalaman berharga bagi seluruh peserta didik kelas VII, VIII, dan IX. Siswa dan guru guru SMP Islam Al Akhyar Makassar telah menjadi bagian dari perjalanan edukatif tersebut. Semoga pengalaman yang diperoleh selama mengunjungi berbagai situs bersejarah di Kabupaten Gowa dapat terus melekat dalam ingatan siswa dan menjadi inspirasi untuk tumbuh sebagai generasi yang berilmu, berkarakter, mencintai sejarah, serta menghargai warisan budaya bangsa

Bagikan artikel ini

Bantu sebarkan kabar baik dari Al Akhyar.